Selasa, 17 Desember 2013

Arti Kata IMAN menurut sunnah Rasul

Saya agak sumringah dengan fenomena munculnya para netter yang mengusung tema Ke-IMAN-an. Fenomena ini sangat menarik karena para netter ini rata2 usianya msh muda, hal ini menunjukkan bahwa dakwah agama di bumi Indonesia ini masih hidup/berjalan. Namun yang agak membuat kita sedikit mengernyitkan dahi adalah pemahaman mereka terhadap konsep dan pokok pikiran agama yang mereka miliki. Semangat dakwah sangat menggebu-gebu tapi kalo tidak ditunjang oleh Ilmu yang memadai akan sangat mudah untuk dibelokkan arah perjuangan mereka.


Contoh pemahaman yang sangat sederhana tapi sangat mendasar untuk dimilikii oleh kita adalah pemahaman tentang arti kata IMAN. Jika kita bertanya kepada setiap orang Islam yang kita temui, Apa itu arti kata IMAN ??? tanpa fikir panjang mereka akan mengatakan IMAN itu artinya PERCAYA. Apa dasar mereka mengatakan IMAN itu artinya PERCAYA. Dasarnya karena yang didapatkan dari pelajaran2 di sekolah maupun di Mushalla seperti itu bahwa IMAN itu artinya PERCAYA.

Ada kawan sy seorang guru di suatu Madrasah Aliyah bercerita bahwa pd saat dia sedang menjelaskan materi pelajaran tentang IMAN & Rukun IMAN sesuai dengan kurikulum Kemenag maka disitu dia menjelaskan bahwa IMAN artinya PERCAYA. Dia jelaskan istilah ini dengan pendekatan etimologi bahwa istilah IMAN/Al-Imaanu dibentuk dari kata Amana/amina/amuna yang artinya PERCAYA. Setelah selesai menerangkan dia membuka session Tanya jawab. Kemudian ada muridnya yang bertanya : “Pak kalo Iman diartikan percaya berarti kita ini termasuk orang-orang penganut aliran KEPERCAYAAN dong pak….krn Aspek/ruang lingkupnya cuman dihati saja …. ??? artinya cukup dengan hanya percaya dalam hati adanya ALLAH, Malaikat, Kitab2 sucinya, para nabi/Rasul-NYA dan hari kiamat berarti kita sudah dikatakan orang Beriman dan berhak masuk Surga, betul begitu pak ….???”. Agak terkejut jg kawan saya (yg Guru) mendapat pertanyaan kritis dari muridnya ini.

Nah skarang mari kita coba…apa sih artinya istilah IMAN seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadisnya Rasulullah pernah menjelaskan bahwa IMAN itu adalah :



Artinya : “IMAN itu adalah Tambatan/Keyakinan hati yang menggema ke dalam seluruh ucapan dan menjelma ke dalam segenap laku tindakan,” (HR. Turmudzi).

Kalo kita cermati, IMAN yang diajarkan oleh nabi ada 3 aspek, yaitu HATI, UCAPAN dan TINDAKAN. Ketiga aspek tersebut kesemuanya merupakan satu-kesatuan atau satu kebulatan hidup manusia. Tidak ada satupun hadis Nabi yang mengajarkan bahwa Al-Imaanu a’dun bil qalbi faqad (IMAN itu cukup PERCAYA didalam hati saja).

Tapi kenapa orang2 zaman sekarang mengartikan IMAN itu artinya PERCAYA (thok). Apa mungkin karena zaman sekarang ini yang lagi ngetren adalah KORUPSI sehingga ARTI KATA IMAN PUN JUGA DIKORUPSI yaitu IMAN yang menurut NABI ada 3 aspek hidup (Hati, Ucapan dan Tindakan) dikorupsi jadi IMAN itu hanya 1 aspek saja yaitu cukup Percaya dalam Hati. Apa bisa seseorang itu dikatakan beriman jika HATI, UCAPAN, dan TINDAKANnya berbeda-beda. Ngakunya Islam tapi hatinya tidak bermahkotakan Quran, Ucapannya tdk menggemakan prinsip-prinsip Quran, Tindakan-tindakannya juga bukan penjelmaan ajaran-ajaran Quran. Salah satu dari ketiga aspek ini kurang pada diri seseorang apakah seseorang itu bisa dikatakan beriman ???? Misalnya ada orang ngakunya beriman KTPnya Islam, omongannya banyak dihiasi ayat2 Quran dan Hadits Nabi tapi tindakannya gak sesuai Quran (misalnya korupsi)....apakah dia bisa dikatakan orang beriman....????

Kata / Istilah berdasarkan kandungan artinya dibagi menjadi 2 kategori :
a. Kata/Istilah Strategis : kata/istilah yang tidak boleh salah dalam memahami artinya, kalo sampai salah dalam memahaminya maka akibatnya FATAL, bisa merusak seluruh konsepsi pemikiran. Contohnya Istilah IMAN, Islam, Taqwa, dll.
b. Kata/Istilah non strategis : kata/istilah yang masih dimaklumi/dimaafkan jika salah dalam memahami artinya.
Istilah IMAN adalah satu contoh kata yang termasuk Strategis, jadi tidak boleh salah didalam memahaminya artinya, kalo salah rusaklah semua konsepsi pemikiran kita tentang dinul-islam. Istilahnya memang kelihatan sepele tetapi ini adalah satu kata yang sangat mendasar sekali dalam membangun konsepsi hidup atau DIN seseorang.
Setelah kita membenahi pemahaman kita terhadap arti kata IMAN yang benar seperti yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, maka yang tidak kalah pentingnya lagi adalah Kepada siapa IMAN kita itu ditambatkan !!! apakah kepada Al-Quran wa Sunnatu Rasul ? atau ke Torah-nya Yahudi ? atau ke Bible-nya Kristen ? atau ke Majuzi ? atau ke Hindu ? dll.
Kalao IMAN itu kita tambatkan kepada AL-Quran wa Sunnatu rasul maka konsekuensinya kita harus semaksimal mungkin dan sekuat tenaga mempelajari Al-Quran wa Sunnatu Rasul sehingga Hati kita bermahkotakan Al-Quran wa Sunnatu Rasul, ucapan2 kita menggemakan konsepsi2 Al-Quran wa Sunnatu Rasul dan Tingkap Laku kita penuh dengan prinsip2 Al-Quran wa Sunnatu Rasul. Sebaliknya kalao IMAN itu kita tambatkan pada ajaran selain Al-Quran wa sunnatu Rasul maka pasti tingkah laku kita akan jauh dari nilai-nilai Al-Quran wa Sunnatu rasul.

Jadi kalo masih ada orang Islam yang memahami IMAN itu artinya PERCAYA berarti orang itu bukan pengikut Rasulullah. Pengikut Rasullah pasti akan mengartikan IMAN itu seperti yang diajarkan oleh Rasulullah, yaitu Tambatan Hati (kepada Quran) yang menggema ke dalam seluruh ucapannya dan menjelma kedalam segenap laku tindakan. Dan Imannya itu ditambatkan kapada ALLAH dengan ajarannya Al-Qura wa Sunnatu Rasul. Tidak boleh ditawar-tawar apalagi di Korupsi seperti di zaman sekarang ini.

Semoga sekelumit catatan saya ini memberi pencerahan dan bermanfaat bagi seluruh saudara2ku di persada nusantara tercinta ini….amiiinnnn. 

3 komentar:

  1. Tambahkan terus materinya ... lebih-lebih ttg terjemahan Al Quran ms Rasul ...

    BalasHapus
  2. Alamat pondok pesantrennya dimana ya pak?

    BalasHapus
  3. Ass. Pak kalau ada diktat atau bukunya saya mau beli sy ingin belajar.

    BalasHapus